Langkah tepat menghadapi kasus cinta segitiga

Ada banyak alasan orang untuk menikah. Ada yang bilang bahwa pasangannya enak diajak bicara.

Ada yang bilang pasangannya sangat perhatian. Ada yang bilang merasa aman dekat dengan pasangannya.

Ada yang bilang pasangannya macho atau sexy.

Ada yang bilang pasangannya pandai melucu.

Ada yang bilang pasangannya pandai memasak.

Ada yang bilang pasangannya pandai menyenangkan orang tua.
Pendek kata kebanyakan orang bilang dia COCOK dengan pasangannya.

Ada banyak alasan pula untuk bercerai.

Ada yang bilang pasangannya judes, bila diajak bicara cenderung emosional.

Ada yang bilang pasangannya sangat memperhatikan pekerjaannya saja, lupa kepada orang-orang di rumah yang setia menunggu.

Ada yang bilang pasangannya sangat pendiam, tidak dapat bertindak cepat dalam situasi darurat, sehingga merasa kurang terlindungi.

Ada yang bilang pasangannya kurang menggairahkan.

Ada yang bilang pasangannya gak nyambung kalau bicara.

Ada yang bilang masakan pasangannya terlalu asin atau terlalu manis.

Ada yang bilang pasangannya tidak dapat mengambil hati mertuanya.

Pendek kata kebanyakan orang bilang bahwa dia TIDAK COCOK LAGI dengan pasangannya.
Kebanyakan orang sebetulnya menikah dalam ketidakcocokan. Bukan dalam
kecocokan.
kecocokan-kecocokan diatas sebagai sebuah ilusi pernikahan. Dua orang yang pada waktu pacaran merasa cocok tidak akan serta merta berubah menjadi tidak cocok setelah mereka menikah.

Ada hal-hal yang hilang setelah mereka menikah, yang sebelumnya mereka
pertahankan benar-benar selama pacaran. Sebagai contoh, pada waktu pacaran
dua sejoli akan saling memperhatikan, saling mendahulukan satu dengan yang
lain, saling menghargai, saling mencintai. Lalu apa yang dapat menjadi
pengikat yang mampu terus mempertahankan sebuah pernikahan, bila
kecocokan-kecocokan itu tidak ada lagi?

Jawabannya adalah KOMITMEN.

Apa pula cinta segitiga ini? Apakah bentuknya segitiga? Cinta yang sejati akan tersayat dan koyak bila muncul orang ke tiga. Sering kali orang ke tiga ini muncul tanpa dapat dideteksi. Kita tidak tahu siapa menerima orang yang ke tiga itu. Mungkin dia adalah teman SMAnya? Mungkin juga tetangganya? Atau mungkin mantan pacarnya? Mungkin juga orang tua kita, nah kalau dia adalah orang tua kita, kategorinya hanya sebatas orang ke tiga, nggak ada embel-embel cintanya.

Orang yang berpacaran memang sering menghadapi berbagai godaan dan tantangan, baik dari luar maupun dalam. Kadang kita tidak menduga tantangan dan godaan itu berbentuk apa. Bisa juga dari pihak orang tua yang tidak menyetujui terjadi hubungan ini. Tidak diketahui
sebab musababnya, namun kebanyakan karena masalah ekonomi. Perbedaan tingkat ekonomi yang cukup menyolok juga membuat orang tua menjadi penghalang. Terutama tuntutannya ditujukan kepada pihak cowok. Yang cowok itu harus lebih kaya, atau paling sedikit pendidikannya lebih tinggi.

Beberapa waktu yang lalu ada seorang cowok berkata pada saya, dalam hal berpacaran selalu terjadi ketidakadilan, lalu saya bertanya mengapa anda berkata demikian? Lalu ia berkata, yang cewek selalu memilih cowok yang “siap pakai” istilahnya disebut demikian. Maksudnya si cowok harus punya gelar, sudah bekerja, kaya, punya mobil pribadi, bila perlu punya rumah
pribadi dan sebagainya. Lalu saya katakan bukankah, seorang cowok juga boleh menuntut demikian? Pembicaraan ini berhenti, karena pulsa telepon habis dan tidak dilanjutkan lagi. Kemudian dari email yang saya terima saya baru mengerti rupanya yang dimaksud dengan “siap pakai” ini rupanya tuntutan dari kebanyakan orang tua terhadap para cowok putrinya.
Kadang masalah cinta itu diabaikan, jadi orang tua kadang menjadi orang ke tiga yang menghalang-halangi cinta sang anak.

Sekarang kalau cinta segitiga lain lagi, muncul orang lain yang juga mencintai sang cewek atau cowok itu. Saya heran, ada orang merasa bangga kalau banyak orang cinta padanya, itu sebabnya walaupun ia sudah memiliki pacar, masih saja memberikan peluang dan pengharapan
bagi orang lain. Kadang yang terjadi pengharapan itu begitu kelewatan, jadi seakan-akan orang tersebut memiliki dua pacar tau lebih. Pacarnya yang pertama tidak rela dilepaskan, namun ia juga tidak rela menolak pacar yang kedua, nah akhirnya muncul cinta segitiga. Sangat menyakitkan sekali, kalau ternyata masalah ini terbongkar, sang korban akan menyebutnya
pengkhianat cinta.
Cinta segitiga, emang paling serba salah dan bikin ribedd. Duuhhh..gimana donk??! Tenang gals, kita punya tips buat kamu – kamu yang sedang menghadapi kasus cinta segitiga kaya yang berikut ini…

– Kasus #1
Kita naksir banget sama seorang cowok, tapi dia malah suka sama teman kita. Duh, gimana nih?
Langkah tepat : Kalau ternyata kamu menghadapi kasus kaya gini, mau gak mau kita relakan saja hubungan itu bergulir.
Tapi jika teman kita enggak suka, belum tentu juga cowok itu akan berlabuh ke pelukan kita lho.
Cinta bukan layaknya toko kue yang seenaknya kita dapat keluar masuk saat kita tidak suka terhadap kue itu. Pilihan terbaik, jadikan dia sahabat kita. Jangan buka dulu perasaan kita, betapa pun kita ingin. Biarkan kita saling mengenal diri masing-masing.
Seiring waktu yang menentukkan, apakah kita berdua ternyata cukup banyak kecocokan untuk menyemai benih-benih cinta. atau siapa tahu
malah setelah kenal sifat aslinya cowok ini kita malah ilfill. Who knows? only time will tell.
Namun dengan berteman, kita bisa dekat sama cowok yang kita sukai dan diam-diam menghapus rasa cinta itu jika ternyata salah jatuh cinta.

– Kasus #2
Teman naksir cowok, cowok itu naksir kita. Duh, apa yang harus kita perbuat?
Langkah tepat : Sebagaimana juga hati kita sama tuh cowok.. kalau bisa kita tetap gak jadian juga sama tuh
cowok. Tapi kalau cowok itu memang naksir berat sama kita dan begitu pun sebaliknya, apa boleh buat… Bersaing sehat kan juga tidak ada salahnya, asalkan kita enggak bersikap sok, seolah-olah jadi pemenang. kalau kebetulan yang naksir cowok kita itu adalah teman curhat yang baik, dia pasti bisa kok sedikit diberi pengertian kalau kamu juga naksir dengan cowok itu begitupun cowok itu terhadapmu. Temanmu juga pasti bisa sedikit memaklumi.
Daripada harus berbohong dengan pura-pura enggak suka dengan cowok itu, malah dibelakangan hari bakalan ribet menjelaskannya. Biarkan cowok itu yang mengklarifikasikan ke teman kita, kenapa dia menjatuhkan pilihannya ke kita.
Asalkan kita juga harus menjaga perasaan teman kita yang naksir pula sama cowok itu, dengan tidak mengumbar kemesraan yang berlebihan.

– Kasus #3
Cowok itu suka kita, tapi kita malah senang sama temannya. Duh, ribet deh…
Langkah tepat : Slowly ajah menghadapinya. Saat ini coba rasakan kalau kita yang diposisi dia. Pasti rasanya akan sakit sekali jika orang yang kita suka ternyata mencintai sahabat kita, kan? Kalau dia nembak, bilang kita tersanjung. Kita menghargai persahabatannya, tapi enggak bisa menerima jadi pacar karena lagi naksir orang lain. Kalau dia tanya siapa, bungkam saja. Klise tapi biasanya cowok itu akan maklum. sementara kita memang enggak bisa pdkt gencar ke sahabatnya itu. Coba hubungi gebetan selain ketemuan langsung dulu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: